Tuesday, March 13, 2012

"Jangan marah, Ayah..."

Oleh : Feri Maulana

 

Aku tak ingat lagi, kapan terakhir kali aku memeluk anak-anakku.

 

Beban pekerjaan yang semakin tinggi, membuatku jadi sering berangkat sangat pagi dan pulang larut malam.

Frekuensi pertemuan dengan anak-anak dan istriku pun semakin berkurang.

 

Kalau dipikir-pikir memang benar apa yang dituliskan temanku di status facebook-nya.

"Waktu berjalan lebih cepat di Jakarta ini". Memang persis demikianlah yang aku rasakan saat ini.

Betapa waktu terasa berjalan sangat cepat sehingga aku selalu merasa tak pernah punya cukup waktu untuk melakukan banyak hal.

 

Sampai suatu hari, tidak biasanya aku pulang tidak terlalu larut dan masih bisa bertemu dengan kedua anakku, Namira dan Kenji yang masih sibuk bermain.

Seperti biasa, setiap aku pulang kerja, istriku membuatkan secangkir teh manis hangat dan menyiapkan makan malam untukku.

Entah karena badan ini sangat letih, atau memang mood-ku yang lagi jelek, melihat kedua anakku yang masih sibuk bermain loncat sana loncat sini...

dengan muka ketus, aku berkata ... atau mungkin lebih tepatnya..berteriak kepada mereka untuk berhenti bermain dan segera masuk kamar untuk tidur.

Istriku yang duduk disampingku pun agak terkejut dengan teriakanku. Namun dia tak berkata apa-apa.

 

Anak-anakku terdiam dan mungkin juga sangat kaget melihat aku berteriak seperti itu.

Tak ada kata yang keluar dari mulut-mulut mungil mereka. Hanya mata mereka yang menatapku seakan berkata,"Jangan marah, Ayah...".

Akhirnya istriku berkata kepada anak-anak untuk berhenti bermain dan masuk kamar. Mereka pun menurut.

 

Setelah anak-anak masuk kamar, istriku menghampiri aku yang masih duduk di sofa sambil menonton televisi.

"Yah, kenapa akhir-akhir ini koq sepertinya ayah mudah sekali marah-marah?" Kata istriku membuka percakapan.

Degh... aku tersentak. Seperti ada orang yang menonjok ulu hatiku dengan keras ketika mendengar pertanyaan itu dari mulut istriku.

Aku terdiam dan entah kenapa tidak bisa menjawab. Benarkah aku seperti itu saat ini? Mataku masih tertuju ke arah televisi.

Dalam hati, aku benar-benar tidak tahu, mengapa aku menjadi sekasar itu kepada anak-anakku.

 

"Mama tahu, ayah mungkin lagi capek, tapi tidak seharusnya ayah marah seperti itu."

"Ayah harus lebih sabar menghadapi anak-anak." lanjut istriku.

Jemarinya memegang jemariku dan berharap mendapatkan respon dariku. Aku dalam ke-ego-anku, tetap tidak berkata-kata.

Aku hanya bisa terdiam dan akhirnya aku berdiri, mematikan televisi kemudian masuk kamar.

 

Aku tak bisa berfikir jernih.. masih bertanya kepada diri sendiri, apa yang sebenarnya terjadi pada diriku.

Namun seperti biasa, istriku sudah sangat paham dengan kebiasaanku.

Sehingga dia pun tidak memaksakan diri untuk berbicara padaku malam itu.

Akupun berbaring di atas tempat tidur sambil menerawang ke atas langit-langit.

 

Pertanyaan istriku terus terngiang-ngiang dan berputar-putar dalam kepalaku.

Wajah anak-anakku yang terkaget masih terlintas dibenakku.

Kenapa ya? Kenapa harus marah? Kenapa tidak kukatakan baik-baik saja...

Ah... aku benar-benar menyesal.

 

Mengapa aku mudah sekali marah kepada mereka.

Mengapa aku harus semarah itu kepada mereka.

Namanya juga anak-anak, memang wajar kalau mereka seperti itu.

Benar kata istriku, aku yang seharusnya lebih sabar.

 

Lalu aku ingat kalau aku belum sholat isya, akupun bergegas bangkit dan mengambil air wudhu.

Kemudian kudirikan sholat dan kututup dengan do'a memohon ampunan dan petunjuk Sang Penguasa Alam.

 

Aku sudah lebih tenang kini dan kulihat wajah istriku yang sudah tertidur.

Kelelahan mengurus kedua anak kami yang sedang aktif-aktifnya, juga dengan segala pekerjaan rumah setiap harinya.

Ya Allah, betapa aku beruntung memiliki istri yang begitu sabar dengan segala sikapku. “Terima kasih sayang…” kataku dalam hati.

 

Lalu aku masuk ke kamar anak-anakku.

Kupandangi wajah-wajah polos mereka yang juga sudah terlelap kecapekan bermain satu persatu.

Kubetulkan selimut mereka dan kukecup kening mereka sambil berbisik, "Maafkan ayah yaa nak..".

Air mataku menetes tak terbendung... aku hanya terduduk dan terus memandangi mereka... lamaaa sekali.

 

Kutekadkan dalam hati untuk bisa lebih sabar menghadapai tingkah anak-anak dan tidak mudah marah lagi.

Kuingin rasakan lagi betapa menyenangkan menghabiskan waktu bermain bersama mereka.

Kuingin mereka mengingatku sebagai ayah yang penyayang dan bisa diandalkan.

Kuingin mereka bangga memiliki ayah seperti aku.

 

Kuingin mereka... menyayangiku seperti aku menyayangi mereka.

 

Cimanggis, penghujung January 2012.


This e-mail, including any attached files, may contain confidential and privileged information for the sole use of the intended recipient.  Any review, use, distribution, or disclosure by others is strictly prohibited.  If you are not the intended recipient (or authorized to receive information for the intended recipient), please contact the sender by reply e-mail and delete all copies of this message.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home